Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda

Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda

Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda

Go Travel Center – Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda. Ketika bicara dengan pasangan, biasanya kita tidak ingin menyakiti hatinya, meskipun kamu sedang marah. Apalagi jika perkataanmu bakal menyebabkan rasa sakit hati yang berkepanjangan. Tentu kamu bakal berpikir ulang bukan? Maka, penting untuk mengingat kalimat apa saja yang tidak sebaiknya diucapkan. Komentar yang menyakiti hati bisa keluar begitu saja dari hati yang terdalam, namun pada kebanyakan kasus tak disadari bakal menyakiti.

Hal ini sangat perlu diperhatikan, terlebih jika kita berbicara dengan pasangan kita. Mengatakan sesuatu yang bisa mengganggu batin mungkin bukanlah maksudmu, namun kamu perlu memahami dampak di balik kata-kata tersebut. “Mungkin kita bisa meminta maaf ketika salah bicara, namun jika kita secara rutin mengatakan itu kepada pasangan kita, ada hal lain yang harus kita perhatikan.” Begitu kata terapis klinis pernikahan dan keluarga berlisensi, Risa Ganel. Nah, untuk itu ada baiknya kita melihat beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari.

Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda

Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda
Hindari Beberapa Hal Ini Agar Tidak Menyakiti Perasaan Pasangan Anda

Mengecilkan hati pasangan

Kalimat apa pun yang membuat pasanganmu merasa diabaikan, diacuhkan atau dikecilkan juga bisa memberi dampak negatif terhadap kesehatan batin mereka. Jadi, penting untuk membuat pasanganmu merasa didengarkan. Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Saba Harouni Lurie mengatakan, ketika kita tidak memvalidasi perasaan seseorang, mereka bisa merasa tidak percaya dengan hal-hal yang mereka hadapi.

Mereka juga akan mengalami kesulitan untuk lebih dekat denganmu lagi di kemudian hari karena mereka merasa kamu hanya akan mengecilkannya. Maka, penting diingat bahwa ketika berpikir positif penting bagi beberapa orang, realitanya mereka yang bersamamu justru tengah berupaya keras untuk berpikir menjadi seseorang yang lebih positif. Mereka mencoba menjadi apa yang kamu harapkan dan ucapkan, namun yang mereka hadapi lebih besar. “Akan sangat membantu jika kamu memahami dan mendengar apa yang sedang mereka usahakan,” ujar dia.

Meminta mereka melupakan

Mengatakan kepada seseorang untuk melupakan apa yang mereka rasakan bukan hanya tidak membantu, namun juga mengesankan kamu semakin mengecilkan perasaan mereka dan membuat mereka semakin jauh darimu. Sikap itu menunjukkan bahwa kamu tidak bisa diganggu dengan masalah mereka. Menurut Ganel, pernyataan tersebut akan membuat pasanganmu merasa tidak didukung dan tidak mendapatkan empati. “Ini akan meningkatkan risiko kesehatan batin mereka, seperti depresi dan kecemasan,” kata dia.

Mengungkit masa lalu

Mengungkit masa lalu pasangan bisa menjadi berbahaya. Terkadang, hal ini bisa memberi dampak negatif yang nyata. Terutama jika mereka memiliki trauma atau hal lainnya yang tidak ingin diingat kembali. Konseling kaleidoskop, Nedra Glover Tawwab mengatakan, pasangan kita berbagi tentang hal hal yang membuat mereka rapuh. Namun, jangan mengingatkan kembali informasi atau menanyakan tentang hal yang sebelumnya mereka bagi secara tidak sengaja.

“Kamu akan merasa topik tersebut membuat mereka tidak nyaman jika mereka menghindarinya atau menyangkal bahwa mereka pernah memberitahumu sesuatu,” ujarnya. Jika kamu menyadari pasanganmu terlihat menghindar dari percakapan tersebut, artinya, itu adalah tanda bahwa percakapan tersebut berpotensi membuat mereka merasa kesal atau memicu emosi negatif lainnya. Itu tidak selalu berarti mereka tidak ingin membicarakannya, atau mereka tidak ingin melakukannya, namun pekalah seberapa besar mereka memang ingin membicarakannya.

Kategorisasi “selalu” atau “tidak pernah”

Ini akan membuat pasanganmu merasa mereka terhenti pada sebuah pola perilaku tertentu. Terapis pernikahan dan keluarga tersertifikasi, Carrie Krawiec menjelaskan, komentar-komentar seperti itu akan membuat pasangan merasa diremehkan, dikritik berlebihan, atau bahkan dituduh.

Krawiec mengatakan, hal itu lebih seperti menyerang karakter seseorang dan kekerasan terhadap batasan pribadi. “Sikap itu seperti melakukan stereotype terhadap seseorang. Ini sama dengan kekerasan terhadap batasan pribadi sebab kamu tidak benar-benar bisa tahu tentang pengalaman seseorang,” ujar dia.

Menggunakan istilah penyakit mental

Menggunakan istilah penyakit mental seperti “depresi”, ” bipolar” atau “PTSD” tanpa diagnosa aktual untuk mengkritik pasangan atau orang lain bisa berdampak negatif bagi mereka. “Itu bisa sangat menyakitkan ketika tidak disampaikan dengan perlakuan yang penuh kasih sayang,” kata Tawwab.

Menghina

Kalimat menghina seperti “kamu seperti ibumu”, “kamu dulu orang susah” atau “berhentilah terlalu dramatis” sangatlah tidak baik dan bisa menjatuhkan kehormatan seseorang. Ini seperti memberi sinyal bahwa ada yang salah dari diri mereka. Mengabaikan jika orang lain bisa mendengar, atau kamu hanya bercanda, komentar-komentar semacam ini bisa sangat sulit untuk diresapi dan bisa membuat pasanganmu merasa rendah.

Apalagi jika kamu mengajak orang untuk membicarakan hal itu. “Mengajak orang untuk membicarakan tentang pribadi pasanganmu itu sangatlah berbahaya.” “Membuat malu di depan publik bukanlah cara yang tepat membuat seseorang memperbaiki diri,” kata Tawwab.

Mengatakan “mereka seharusnya menjadi”

Mengatakan agar pasanganmu seharusnya menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu benar-benar bisa menjatuhkannya. Ini akan membuat dia terlihat tidak cukup baik dan membuat mereka merasa dikontrol. Krawiec mengatakan, perkataan tersebut bisa menyiratkan ekspektasi tertentu. “Semakin ekspektasi tersebut seperti sulit dicapai, akan semakin tidak bahagia kamu dan pasanganmu.”

“Kebahagiaan adalah ketika ekspektasi tidak lebih tinggi dari realita,” ujar dia. Jika kamu merasa pernah atau biasa mengatakan kalimat-kalimat tersebut, ada baiknya kamu mulai berubah dan menggunakan kata “aku”, serta mengurangi kata “kamu”. Ini mencegah kesan pasanganmu merasa dipermalukan, disalahkan atau dikritik.

Selain itu, rajinlah berkomunikasi soal perasaan tentang bagaimana caramu berbicara kepada dia. Ini mungkin memerlukan kerendahan hati lebih, namun bisa membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Jika perlu, bicaralah dengan profesional untuk menyelesaikan masalah komunikasimu. Ini agar komunikasimu bersama pasangan lebih efektif, lebih sehat, dan lebih penuh kasih sayang.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *